Serba-Serbi

Praktis dan Berhemat dengan Tinggal di Apartemen

Kompas

Senin, 12 Mei 2008 | 12:26 WIB

Katarina (32) sekarang memilih pulang ke rumah orangtuanya di Petamburan. Padahal, sejak menikah 2 tahun lalu, perempuan yang bekerja di daerah Slipi ini sudah punya rumah di Vila Dago, Pamulang. Alasannya, “Pulang ke Pamulang jauh, capek ah,” ujarnya.

Coba simak percakapan singkat kami dengannya.
TR: Kat, kamu nggak pilih tinggal di apartemen saja?
Katarina: Nggak ah. Biayanya mahal, ada servis ini, servis itu. Lagi pula, gue emang nggak suka nguplek aja di ruang sempit gitu.

Jawaban seperti ini ternyata tidak hanya dari Katarina. Sejumlah orang yang belum pernah mencicipi tinggal di apartemen memberikan jawaban serupa. Bila disimpulkan, ada tiga alasan mereka menolak tinggal di apartemen. Pertama, harga unit apartemen lebih mahal dari rumah biasa (landed house, rumah yang menempel di tanah). Kedua, ada biaya servis setiap bulan yang cukup tinggi. Ketiga, arealnya sempit. Benarkah hidup di apartemen seperti ini?

Mengatasi lahan sempit
Sebenarnya, hidup secara vertikal adalah sebuah jawaban untuk kota besar yang penduduknya semakin padat tapi lahan tidak bertambah. “Kantor, sekolah, sekarang semua dibuat bertingkat. Tempat tinggal juga,” kata Mohammad Danisworo (Chairman Lab PSUD, Center for Urban Design Studies). Muncullah apa yang sekarang kita kenal rumah susun atau apartemen.

Prinsip apartemen adalah lahan kecil bisa dimanfaatkan untuk tempat tinggal bagi banyak orang karena dibuat vertikal. Karena tidak membutuhkan areal yang sangat luas, apartemen bisa berada di tengah-tengah kota. Sedangkan rumah biasa, umumnya ada di pinggiran kota. Bila harga apartemen lebih mahal dari rumah biasa ya wajar saja. Kalau dibandingkan dengan lokasi yang sama, harga apartemen sebetulnya tidak jauh berbeda dengan harga rumah biasa.


Biaya per bulan
Tinggal di apartemen memang berbeda dengan tinggal di rumah biasa. Semua urusan dikelola oleh pengelola apartemen, mulai dari urusan buang sampah, sekuriti, area publik, sampai tempat parkir. Semua ongkos ini dijadikan satu, yang disebut biaya maintenance atau biaya servis dan harus dibayar per bulan. Besarnya dihitung berdasarkan luas unit..

Cocok untuk keluarga aktif
Apartemen sebetulnya cocok untuk generasi muda yang terbilang aktif. Bekerja dari pagi sampai malam membuat waktu yang dihabiskan di rumah tidak banyak. Karena itu, memiliki rumah di pinggiran kota sebetulnya cukup memberatkan. Gusti (41), bapak 1 anak yang tinggal di Bintaro dan bekerja di sebuah bank asing di Jalan Thamrin, menghabiskan biaya sekitar Rp 800.000 per bulan untuk bensin. Itu pun hanya digunakan pada hari kerja, belum termasuk hari libur. Ini masih ditambah bensin untuk mobil kedua, yang dipakai istrinya yang bekerja paruh waktu, sekitar Rp 800.000 per bulan. Kalau ditotal, Rp 1,6 juta dihabiskan setiap bulan cuma untuk bensin. Ini belum menghitung “harga” dari waktu untuk anak yang harus dikorbankan karena lamanya perjalanan dari dan menuju rumah. Kalau kita mau membandingkan, biaya ini lebih tinggi dari biaya-biaya servis yang dibebankan oleh apartemen.

Area Terbuka
Alasan lain orang ogah tinggal di apartemen biasanya karena ruang yang terlalu kecil. Banyak orang membayangkan bahwa akan sangat membosankan terkurung di ruangan yang berada beberapa meter di atas tanah, tanpa teras, tanpa halaman, dan tidak ada taman. Apakah memang seburuk itu?

Sebenarnya apartemen menyediakan fasilitas public space, yaitu ruang terbuka yang bisa digunakan oleh penghuni apartemen. Biasanya di ruang terbuka ini ada kolam renang, lapangan basket, jogging track, dan taman. Penghuni bisa lari pagi, jalan-jalan sore, duduk-duduk sambil ngobrol, baca buku di taman, dan sebagainya. Bahkan yang memiliki podium (public space) seluas 12 ha mendatangkan tukang bakso dan gado-gado gerobak. Sore hari, podium ini sangat ramai. Berjalan-jalan di sini tidak ubahnya seperti berjalan-jalan di sebuah taman bermain yang sangat luas. Fasilitas lain seperti supermarket, laundry, dan sekolah pre school yang ada di lingkungan tower memberikan banyak kemudahan.

Kini semakin banyak apartemen kelas menengah. Menurut Pusat Studi Properti Indonesia (data 2006), yang masuk kategori menengah adalah apartemen dengan harga Rp 5,10 juta-Rp 9,93 juta per meter persegi. Dengan pertumbuhan apartemen kelas menengah yang demikian pesat, mungkin tinggal di apartemen menjadi pilihan hidup yang sangat praktis.

Tapi perlu diingat, hidup di apartemen membutuhkan rasa toleransi yang tinggi. Karena, seperti yang dikatakan Danisworo, kita harus hidup “berbagi”. Untuk halaman, tempat parkir, tempat terima tamu, misalnya, kita harus berbagi dan tidak bisa seperti di rumah sendiri. Ya, tinggal di apartemen memang adalah sebuah pilihan.

Mengelola Aset Properti

KOMPAS, Kamis, 24 April 2008 | 13:07 WIB

Bila investor ingin membeli properti sudah termasuk tanah di mana bangunan tersebut berdiri dan nilainya sangat bervariasi. Ada harga tanah sama dengan harga bangunan, atau harga tanah lebih tinggi dari harga bangunan, atau harga tanah lebih rendah dari nilai bangunan. Jenis properti yang dapat dibuat menjadi bisnis, antara lain rumah, rumah toko (ruko), gudang, mal, hotel, gedung perkantoran, resor, dan apartemen.

Bila investor berinvestasi pada properti wajib melakukan diversifikasi agar risikonya kecil dan memperoleh keuntungan. Diversifikasi pada properti menggunakan konsep lokasi dan jenis, misalnya berupa perkantoran, perumahan, dan pergudangan.

Bila ingin berinvestasi pada resor, biasanya dibangun di daerah pegunungan dan pantai untuk wisatawan berlibur atau istirahat pada akhir minggu. Demikian juga pergudangan, bila di tengah kota tidak menguntungkan sehingga sebaiknya di dekat daerah bandara atau pelabuhan laut. Beberapa investor berpengalaman dalam properti membuat pergudangan di pinggiran dekat jalan tol sehingga barang yang disimpan bisa dikirim ke tempat tujuan melalui jalan tol.

Hotel sebagai investasi didirikan pada daerah perkotaan atau tempat liburan, jarang di pinggiran kota yang kemungkinan tidak ada konsumen yang datang. Hotel mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai tempat istirahat dan menginap serta tempat berdiskusi berbagai hal.

Tempat tinggal dapat didirikan di tengah kota berupa apartemen atau kondominium atau di pinggiran kota. Lokasi sebaiknya dekat dengan sarana transportasi agar beban pengeluaran peminat/investor tidak harus bertambah.

Pegang dan jual
Mengelola properti sebagai bisnis atau menjadi investasi berarti ada periode saat properti “dipegang” dan dijual. Sebagai bisnis, investor menyewakan propertinya kepada pihak lain. Umumnya penyewa selalu menginginkan properti di lokasi yang strategis.

Lokasi properti juga menentukan besarnya uang sewa. Lokasi yang strategis akan menghasilkan sewa lebih mahal, bahkan sewa yang diperoleh hampir sama dengan bunga dari dana yang diinvestasikan pada properti tersebut yang berarti investor memperoleh keuntungan sangat besar. Bila investor memilih lokasi yang strategis dan bila harga pembelian sangat murah, maka tingkat pengembalian yang diterima sangat tinggi.

Bila nilai sewa yang diperoleh tidak sama dengan tingkat bungaberlaku, maka nilai sewa tersebut harus minimal separuh tingkat bunga berlaku. Misalnya, bila nilai properti sekitar Rp 1 miliar, maka nilai sewa yang diperoleh sekitar Rp 50 juta setiap tahunnya. Tetapi, karena letak properti tidak strategis, nilai sewa yang diperoleh 3%-5%
dari nilai investasi properti tersebut setiap tahun.

Selanjutnya, bila investor ingin berinvestasi dan memungut keuntungan di kemudian hari, maka properti tersebut harus strategis dan telah dihitung kenaikan harganya selama dipegang. Pada saat dipegang, properti tersebut harus disewakan dan besarnya sewa sebaiknya sesuai uraian sebelumnya.

Bila properti tidak disewakan dan ditunggu sampai terjual, maka tingkat pengembalian rendah karena bangunan akan rusak atau semakin kecil harganya. Properti tersebut akan sangat terawat bila ada yang menempati sehingga harga properti akan lebih tinggi dibandingkan dengan kosong selamanya. Dalam kasus ini, investor harus mempunyai perhitungan besarnya kenaikan harga properti selama dipegang.

Rumusan yang dapat digunakan, yaitu minimum tingkat bunga pada deposito ditambah risiko yang ditolerir investor atas investasi pada properti. Bila tingkat bunga secara rata-rata selama periode dipegang sebesar 8%, maka investor harus mempunyai tingkat pengembalian rata-rata lebih tinggi dari 8% dan premiumnya minimum 4%-6%.

Siklus
Untuk mendapat hasil penjualan properti maksimal dan dapat memberi hasil sesuai harapan, maka investor harus memahami siklus properti bersangkutan. Biasanya, harga properti sangat rendah bila tingkat bunga sangat tinggi, situasi ekonomi tidak baik. Harga properti akan tinggi bila tingkat bunga rendah dan ada kelebihan dana yang tinggi di perbankan. Situasi ekonomi harus dipahami dengan bertanya kepada ahli ekonomi dan siklus properti didiskusikan kepada ahli properti yang memahami ekonomi.

Investor juga harus memahami liku-liku penjualan properti untuk mendapat keuntungan maksimal dan perpajakan properti agar dapat menentukan harga dan keuntungan yang diinginkan. Peraturan pajak menyebutkan, setiap properti yang dibeli atau dijual dikenai pajak PPHTB sebesar 5%. Karena itu, investor harus mempunyai nilai properti 10% ditambah tingkat pengembalian yang diinginkan. Berdasarkan penelitian berbagai properti, sebaiknya properti harus dipegang minimum tiga tahun agar terjadi tingkat pengembalian yang diinginkan.

Properti dapat dipergunakan investor untuk investasi dalam rangka persiapan dana sekolah anak-anak di kemudian hari atau bahkan untuk warisan. Bila strategi ini yang dipergunakan, maka investor harus juga memperhitungkan kenaikan harga properti dan harga awal sudah bisa memenuhi kebutuhan sekolah tersebut. Informasi ini didapat melalui hasil penelitian dari ahli properti atau bank data properti.

Dengan demikian, dalam mengelola properti investor harusmemiliki informasi lokasi yang strategis. Informasi dapat juga diperoleh melalui media massa dan investor juga harus tidak lupa mengecek kebijakan pertanahan dan properti di daerah bersangkutan.

Adler Haymans Manurung
praktisi keuangan

Tinggal di Apartemen Tak Terelakkan

KOMPAS, Jumat, 14 Maret 2008 | 23:32 WIB

Banjir besar yang melanda Jakarta awal bulan lalu kembali mengingatkan warga Ibu Kota dan sekitarnya untuk lebih realistis. Ekspansi pengembang yang mengubah daerah resapan air untuk permukiman, kawasan komersial, kantor pemerintah, dan infrastruktur menginspirasi warga untuk hemat lahan dan lebih menjaga lingkungan.

Warga dengan kesadaran sendiri, kini memilih berdomisili di apartemen, rumah susun, atau menghuni satu rumah minimal 250 meter persegi untuk beberapa keluarga. Permintaan ruang apartemen dan rumah susun dengan sendirinya terus meningkat. Pemerintah pun menyadari hal ini sebagai fakta-fakta tak terelakkan.

Warga perlu mendukung megaproyek ini dengan terus mengingatkan pemerintah untuk segera merealisasikan rencananya. Seperti biasa pemerintah amat kuat dalam perencanaan, tapi lemah dalam perwujudan rencana itu.

Menurut pengamatan Kompas, naiknya hasrat tinggal di apartemen perlu terus dipupuk. Sebab, inilah jalan lurus dan benar untuk menjawab ledakan penduduk dan makin berkurangnya ruang permukiman. Pemupukan itu di antaranya dengan kampanye tiada henti akan manfaat apartemen, penjagaan kualitas lingkungan hidup, dan efisiensi lahan.

Upaya memopulerkan hunian apartemen ini bisa melalui banyak instrumen, di antaranya media massa, media luar ruang, sentra komersial, dan bahkan wilayah pendidikan. Apabila hasrat menghuni apartemen dan rumah susun akhirnya meledak, arus pencaplokan lahan resapan air akan jauh melambat dan gantinya Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya akan penuh gedung tinggi.

Negara-negara tetangga, seperti Singapura, Australia, dan Finlandia, sudah mempraktikkan hunian di apartemen dan rumah susun. Kalau Singapura melakukan dengan amat tertib dan terprogram, bisa dimengerti. Karena negara ini hanya seluas 1.000 kilometer persegi. Lahan mereka amat terbatas, penduduk suka atau tidak suka harus berdiam di apartemen.

Akan tetapi, Australia lain lagi ceritanya. Negeri yang terletak di satu benua sendiri ini luasnya beberapa kali luas daratan Indonesia Namun, penduduknya dengan kesadaran sendiri berdomisili di apartemen. Warga Australia sangat concern pada masalah lingkungan dan hemat lahan.

Contoh ekstrem lain dari kegagalan hemat lahan dan menjaga lingkungan ditunjukkan oleh warga Finlandia. Negara Finlandia luasnya sama dengan Jerman, lebih kurang 30.000 kilometer persegi. Jerman berpenduduk 83 juta jiwa dan Finlandia 5,2 juta jiwa (dalam tempo 30 tahun penduduk Finland hanya bertambah 300.000 jiwa. Sebagian di antara mereka adalah kaum imigran).

Namun, meski memiliki lahan amat luas, warga Finlandia, terutama di Ibu kota Helshinki, suka berdomisili di apartemen. Dalam pandangan banyak warga negara maju, berdomisili di apartemen membuat mereka dapat merengkuh lokasi kerja dalam waktu amat singkat. Ada yang naik kendaraan umum dalam jarak pendek, ada pula yang cukup berjalan kaki. Warga seperti ini tidak sekadar ingin hemat lahan, tapi irit energi dan tidak ingin menambah polusi udara.

Dalam era pemanasan global yang sangat menghantui warga dunia, kesadaran warga tersebut patut dihargai. Warga Indonesia pun patut bersikap seperti itu. Hunian vertikal di apartemen atau rumah susun adalah jalan keluar yang mesti ditempuh.

Informasi
Dalam konsidi seperti sekarang warga Ibu Kota dan kota-kota lainnya perlu diinformasikan bahwa tinggal di apartemen bukan berarti membeli kemewahan. Tidak semua apartemen luks, tidak semua mahal.

Penjualan dengan sistem seperti ini cukup memudahkan dan mestinya perusahan-perusahaan besar yang mampu memberikan karyawannya kredit perumahan, mempertimbangkan untuk hanya memberi kredit apartemen. Ini akan jauh lebih bermanfaat.

Sebaliknya, para pengembang harus menaikkan mutu produk dan pelayanan pada konsumen. Tanpa tindakan ini, pengembang Indonesia tidak akan pernah maju.

Abun Sanda

Pasar Masih Akan Terus Tumbuh

KOMPAS, Kamis, 14 Februari 2008 | 08:34 WIB

TIDAK perlu khawatir berlebihan properti akan kena krisis pembeli. Pasar properti akan terus tumbuh paralel dengan pertumbuhan penduduk.

Ucapan ini diungkapkan pengembang Trihatma Kusuma Haliman dari Grup Agung Podomoro dan AM Marhendra dari Grup SpringHill di Jakarta baru-baru ini. Keduanya berangkat dari logika sederhana, yaitu pertumbuhan manusia yang lebih tinggi dari angka kematian pasti mengakibatkan lonjakan kebutuhan rumah dan apartemen baru.

Pertumbuhan ini pula yang pada ujungnya akan membutuhkan ruang perkantoran dan pusat perbelanjaan baru. “Ini hal yang jamak. Krisis ekonomi yang parah pernah terjadi dan orang tetap mencari rumah. Ini hukum pasar yang populer,” ujar Trihatma.

Masalahnya, menurut Trihatma, pengembang tidak boleh hanya berharap pada pertumbuhan pasar. Justru Pertumbuhan permintaan mengharuskan pengembang berkreasi menghasilkan produk paling atraktif, karya paling bermutu. Kalau ini yang terjadi, para pengembang tergugah mengembangkan produk kreatif dan di sini panggung
bisnis properti menjadi sangat menarik. Pertarungan bisnis bukan pada harga, tetapi pada kemampuan menghasilkan karya-karya kreatif.

“Hukum bisnis yang sangat populer adalah kompetisi dan kita boleh sangat bahagia karena kompetisi itu bukan pada perang harga, tetapi kreativitas,” ujar Trihatma. Di negara-negara maju, tren kreativitas sudah lamamenjadi langgam para usahawan.

Sementara AM Marhendra menilai, kompetisi bisnis selalu menarik. Ia akan menjadi lebih menarik apabila para pebisnis keluar dari blok perang harga dan masuk ke wilayah kompetisi yang menekankan kreativitas serta etika. “Etika juga sangat penting untuk menghindarkan pengembang dari praktik-praktik tidak etis,” ujar
Marhendra.

Berkembang
Trihatma dan Marhendra tidak berlebihan tentang pasar yang berkembang. Menurut data lembaga riset dan konsultan properti Provis (2007), pasar properti masih akan terus tumbuh. Ritel, misalnya, meski daya serapnya menurun, tetapi tetap bergerak, terutama pada segmen tertentu.

Tingkat hunian ritel menurun karena tingkat hunian fisik menurun, terutama tampak pada pusat perbelanjaan strata title yang masuk pada kurun waktu 2002-2006. Peminat strata title umumnya terdiri atas para investor. Gairah baru akan tampak pada tahun 2008 tatkala retailer asing masuk Jakarta dan membuka gerainya di pusat perbelanjaan utama
Jakarta.

Pada tahun 2008 pula akan terjadi sedikit perubahan menarik pada persaingan pusat perbelanjaan baru menyusul masuknya retailer yang datang dengan model one stop retail center. Tidak sampai di sini, pusat belanja dengan tema F & B maupun entertainment akan makin meramaikan one stop retail center. Dalam kaitan ini, Provis menyarankan pengembang memerhatikan studi dan kecermatan dalam menjalankan roda bisnis. Ini untuk menghasilkan konsep yang unik dan kombinasi penyewa yang menarik.

Untuk perkantoran pada tahun 2007, menurut data Provis, pasar perkantoran mencatat rekor penyerapan tertinggi. Tahun 2008, pasar perkantoran tampaknya akan tetap positif dengan makin banyaknya perluasan dan relokasi perusahaan pada gedung perkantoran yang sudah beroperasi. Hanya saja, harga sewa rata-rata kotor diperkirakan akan naik dengan adanya kemungkinan penyesuaian biaya servis seiring dengan akan naiknya harga utilitas. Selain harga sewa, harga jual perkantoran diperkirakan akan naik karena proyek yang ditawarkan pada tahun 2008 masih dalam tahap awal pemasaran dan pembangunan.

Di bidang perhotelan, arus permintaan untuk kamar hotel bertambah deras kendati perbaikan kondisi makro-ekonomi masih lambat dan investasi proyek serta kegiatan konvensi- konvensi berskala besar masih terbatas. Beberapa proyek hotel berbintang empat dan lima dijadwalkan akan mulai beroperasi tahun 2008. Beroperasinya hotel-hotel tersebut, juga aspek pasar yang sensitif terhadap harga kamar, diperkirakan akan agak menurunkan tingkat hunian hotel.

Efisien
Di luar beberapa aspek di atas, para pengembang diajak belajar dari beberapa negara maju yang mampu menahanharga rumah dan apartemen dengan cara hemat bahan, efisien dalam cara membangun. Eksekutif properti Subianto Satmaka menyatakan, pengembang harus pandai memilih ahli konstruksi dan kontraktor yang mampu membangun dengan cara efisien. Keefisienan ini bisa dilakukan tanpa sedikitpun mengorbankan bahan dan ketahanan bangunan.

Subianto menyatakan, ia telah memegang banyak proyek dan selalu menekankan pada efisiensi. Untuk mencapai level ini,pengembang memang harus mampu berhitung dengan cermat tentang fungsi ruang, fungsi area parkir/jalan, pembangunan pilar, ruang bawah tanah, dan sebagainya. Ia mengatakan, pihaknya kini tengah merancang proyek Pancoran.

Dalam persiapan pembangunan, ia mengajak arsitek dan ahli konstruksi terbaik. Bukan untuk gaya, tetapi dari mereka ia peroleh pembangunan yang sangat efisien. Ia dan para staf intinya pun mengerahkan segenap pengalaman yang ada untuk menghasilkan produk bermutu dan ramah lingkungan.

Abun Sanda

Hitung-hitung Biaya Hidup di Apartemen

KOMPAS

Selasa, 13 Mei 2008 | 08:12 WIB

Kenyamanan tinggal di apartemen dan kedekatan dengan pusat perkantoran menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat menengah atas dalam memilih apartemen.

Saat membeli apartemen, selain harga yang tercantum di brosur, biasanya ada beberapa biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Apa sajakah itu?

1. PPNBM (Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah)
Yang terkena PPNBM adalah apartemen dengan luas lebih dari 150 meter persegi atau yang harganya lebih dari Rp 4 juta per meter persegi. Besarnya 20 persen dari harga apartemen.

2. PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
Besarnya 10 persen dari harga apartemen. Pajak ini tidak ada batasannya. Berapa pun harga apartemen akan dikenai PPN.

3. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan Bea Balik Nama
Biasanya, dua komponen pajak ini dijadikan satu, dengan jumlah 5 persen dari nilai apartemen.

Jika membeli dengan KPA (Kredit Pemilikian Apartemen) akan dikenai biaya asuransi yang besarnya tergantung pengembang dan bank yang memberikan KPA.

Selain itu, setiap bulan para penghuni akan dikenai biaya maintanance atau service charge. Biaya ini digunakan untuk menutupi biaya pada public area, misalnya biaya lift, listrik, dan AC di lobi. Besaran biaya servis ini tergantung luas unit apartemen yang kita miliki.

Contoh: Biaya maintanance = Rp 10.000 per meter persegi
Luas unit apartemen = 70 meter persegi
Biaya per unit apartemen = 70 x Rp 10.000 = Rp 700.000 per bulan

Apartemen Lebih Lega Tanpa Penyekat

KOMPAS, Senin, 10 November 2008 | 10:16 WIB

APARTEMEN sederhana memiliki kisaran luas bangunan antara 27m²-48m². Karenanya, apartemen membutuhkan tata ruang yang cermat, agar penghuni tetap merasa nyaman beraktivitas di dalamnya.

Banyak ide bisa diterapkan untuk menata interior apartemen. Ide ini biasanya lebih banyak bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan lahan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengolah desain furnitur. Pada hunian dengan lahan yang sempit, sebaiknya Anda menggunakan banyak furnitur multifungsi. Penggunaan cermin sebagai salah satu cara meluaskan ruang, juga dapat diaplikasikan.

Satu hal lagi yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati ruangan yang sempit, hindari menggunakan penyekat ruangan. Keberadaan penyekat ruangan akan membuat ruangan, yang memang sudah sempit, terasa semakin sempit.

Banyak orang memasang penyekat sebagai pemisah antara ruang publik dengan ruang lainnya. Padahal kita tetap bisa kok memisah ruang, tanpa harus menggunakan penyekat (partisi). Caranya dengan membuat pembagian ruang yang lebih luwes (smooth).

Ruang keluarga, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu, dibiarkan menerus ke dapur. Keseluruhan ruangan memiliki ukuran kurang lebih 2,5mx4m. Dapur menempati lahan berukuran 2,5mx2,1m. Sisanya digunakan sebagai ruang keluarga.

Meskipun tanpa penyekat, sebenarnya tetap terdapat “pemisahan” antara ruang keluarga dan dapur. Penempatan meja bar (breakfast table) di antara ruang keluarga dan dapur, berfungsi pula sebagai penyekat. Kita tidak menyadari adanya pemisahan ruang, karena kita tidak mengasumsikan meja bar sebagai penyekat, melainkan sebagai meja makan.

Masih ada cara lainnya. Pada ruang keluarga, terdapat cermin yang menutupi salah satu permukaan dindingnya. Namun tidak demikian halnya dengan di dapur.

Pemasangan cermin seperti di foto tersebut memiliki dua fungsi. Pertama, tentu saja untuk memberikan kesan luas pada ruangan. Kedua, menciptakan perbedaan antara dinding ruang keluarga dan dapur. Adanya perbedaan pada dinding, juga bisa menjadi kiat membagi ruang tanpa menggunakan penyekat. Selain menggunakan cermin, Anda juga bisa menciptakan perbedaan pada dinding dengan pengaplikasian warna yang berbeda.

Penulis: Anissa

Cermin Untuk Memperluas Ruang

Minggu, 22 Juni 2008 | 10:13 WIB

“Sana sini mentok”. Istilah itu sangat tepat untuk menggambarkan sebuah apartemen, yang umumnya memiliki area terbatas. Ditambah dengan ketiadaan halaman, ruang dalam apartemen seolah-olah terasa lebih “menekan”. Karena itu, interior sebuah apartemen harus dirancang agar terlihat lebih luas, dan tentunya lebih nyaman.

Cermin Sebagai Dinding
Cara yang banyak dilakukan desainer interior untuk memperluas ruang adalah dengan menggunakan cermin. Ilusi yang tampak di cermin bisa membuat ruang tampak 2 kali lebih besar. Batas pandangan yang tadinya terbentur tembok, seakan-akan diperluas ke dalam cermin.

Cara inilah yang diterapkan pada apartemen mungil ini. Secara ekstrim, di sini cermin dipasang “penuh” pada dinding yang berbatasan dengan ruang tidur. Dinding antara pintu kamar anak dengan ruang tidur utama pun tak luput dari cermin.

Memasang cermin berukuran raksasa memang cukup efektif. Namun yang jadi masalah adalah keterbatasan ukuran cermin yang ada di pasaran. Anda memang bisa memesan cermin berukuran sangat besar, tapi pastinya harganya menjadi sangat mahal. Belum lagi kesulitan saat memasukkan cermin ke dalam rumah dan memasangnya. Bayangkan pula bila pecah, Anda harus mengganti seluruhnya. Agar lebih praktis, di sini digunakan cermin dalam bentuk panel-panel berukuran 130 cm x 80 cm, yang “disatukan” dengan penyangga dari aluminium (ada namanya???).

Karena dinding dipenuhi cermin, peralatan listrik seperti stop kontak dan sakelar sebaiknya telah ditentukan posisinya sebelum cermin dipasang. Pertama-tama, cermin dilubangi seukuran stop kontak atau sakelar, kemudian dipasang di dinding. Baru setelah itu rumah sakelar dipasang.

Selain memperluas pandangan, penggunaan cermin di seluruh dinding ternyata bisa mengurangi biaya pengecatan. Dinding tak perlu dicat, bahkan tak perlu diaci lagi. Selain itu, kalau kotor gampang membersihkannya.

Rahma Yulianti/ Made Mardiani Kardha

Sumber: Tabloid Rumah

Apartemen Hitam-Putih

KOMPAS, Jumat, 9 Mei 2008 | 13:00 WIB

Rio cukup kecewa ketika melihat unit apartemen yang dibelinya, ternyata sangat standar. Mungkin itulah konsekuensi dari membeli “barang” sale. Tapi kepiawaiannya mendesain ruangan bisa menyulap ruang standar itu jadi lebih indah dan bernilai.

Sale unit apartemen Taman Anggrek kira-kira setahun lalu mendorong Rio Chrisdian (35) dan istrinya, Yennie (30) untuk membelinya. Tapi seperti banyak yang dilakukan pengembang apartemen saat ini, apartemen dijual dalam keadaan unfinished. Di unit tersebut belum ada plafon, belum ada lampu (cuma ada kabel di tiap titik lampu), lantai ditutup keramik standar ukuran 20 cm x 20 cm, dan kabinet dapur disediakan ala kadarnya.

Rio, arsitek lulusan UKI Jakarta yang sekarang memiliki kantor konsultan arsitektur dan desain interior bernama Idea, gerah juga melihat kondisi unit yang sangat minim ini. Karena itu ia memutuskan untuk memolesnya habis-habisan.

Pertama-tama, Rio menentukan tema warna yaitu hitam dan putih. Mengapa warna ini yang dipilih? Menurut Rio, hitam dan putih melambangkan simplicity, yang mengandung makna kesederhanaan. Nilai ini pulalah yang dianut Rio dalam menjalani hidup. “Saya memang senang yang taktis, nggak seneng ribet,” ujarnya ketika kami mengobrol di ruang keluarganya yang kecil tapi nyaman, sambil menunggu proses pemotretan.

Selain mengandung nilai kesederhanaan, hitam dan putih juga sederhana dalam makna visual. Ruang yang tidak terlalu luas cocok bila diberi tema warna monokrom seperti ini. Andaikan diberi banyak warna, ruang mungkin akan terlihat “penuh”, terasa lebih sempit, dan kurang menenangkan.

Hitam dan putih diterapkan oleh Rio di hampir setiap bagian. Sofa, kursi makan, pintu, kusen, wood blind, semua menggunakan warna hitam. Dinding dan plafon dibiarkan putih. beberapa perabot dibuat berwarna putih atau kombinasi putih dan hitam. Untuk memberikan kesan hangat, Rio memilih parket bambu yang berwarna kuning muda sebagai ganti granit. Bambu dipilih karena teksturnya yang unik dan warnanya yang cenderung terang, sehingga masih cocok dengan tema hitam-putih.

Ketika ia membawa kami ke dapurnya, kami spontan berseru, “wah, dapurnya juga hitam dan putih?” Rio menimpali sambil tertawa, “keterlaluan ya?”

Aksen Tetap Perlu
Sekalipun berpegang pada kesederhanaan dan warna monokrom, aksen tetap dibutuhkan. Aksen akan membuat ruang yang minim warna dan ornamen menjadi tidak membosankan. Di sini Rio menggunakan kursi malas warna merah sebagai aksen di ruang keluarga. Pada dinding di belakang TV, Rio juga meletakkan panel plywood ebony dengan garis-garis horizontal warna putih.

Agar terlihat menyatu dengan panel dinding ini, pada plafon diberi kisi-kisi kayu yang dicat warna hitam, dengan lebar sama persis dengan panel tadi. Dengan demikian terlihat ada 2 bidang (plafon dan dinding) berpelapis kayu, yang menaungi area duduk di ruang keluarga. Bentuk seperti ini memberikan keintiman dan kehangatan di ruang keluarga ini. Dan hebatnya, di balik kisi-kisi kayu pada plafon tadi ada balok struktur yang kalau terlihat, memang kurang indah.

Minimalis, Modern, Tropis
Bila ditanya gaya apa yang diterapkan, Rio menjawab, ada tiga gaya yang diadopsi untuk tempat tinggalnya ini, yaitu minimalis, modern, dan tropis. Minimalis ditunjukkan dalam konsep “bentuk mengikuti fungsi”. Jadi benda-benda yang ada di sini dipikirkan betul-betul fungsinya. Meja TV, misalnya, dibuat agar benar-benar sesuai dengan benda-benda yang ingin diletakkan di atasnya dan di dalam laci-lacinya.

Tapi gaya minimalis murni menurut Rio terlalu “dingin”. Karena itu ia menggunakan beberapa campuran material yang bergaya modern seperti kaca untuk meja makan dan coffee table, stainless steel untuk kaki-kaki meja dan handle laci/lemari, dan aksen kursi malas warna merah.

Lalu, di mana unsur tropis diterapkan? Rio mengadopsinya dalam bentuk penggunaan material alami. Dinding ruang makan, misalnya, ditempeli batu andesit rata bakar yang dibentuk susun sirih. Mengapa Rio memilih batu andesit? Tidak lain karena warnanya yang abu-abu, mendekati hitam. Selain itu, Rio juga bermain-main dengan material kayu pada penutup jendela (wood blind), kisi-kisi pada plafon dan panel pada dinding.

Selain memainkan warna, material, dan perabot, Rio juga menggeser beberapa dinding agar ruang apartemen ini lebih nyaman untuknya. Di dinding dekat pintu kamar tidur utama, misalnya, dibuat lemari tanam untuk lemari obat dan lemari penyimpanan sepatu. Satu lagi, sebagian dinding di belakang TV juga digeser sehingga di kamar tidur utama terdapat ceruk kecil yang pas bila digunakan untuk tempat rias.

Ya, tinggal di unit apartemen atau di rumah berukuran mungil, kita memang harus pintar-pintar menata. Kalau tepat, tempat tinggal pun akan terasa nyaman.

(dek)

DBS Prediksi Indonesia Mampu Atasi Krisis Keuangan Global

Majalah SWA, Selasa, 03 Februari 2009
Oleh : Eddy Dwinanto Iskandar

DBS Bank Ltd yakin Indonesia berada di posisi lebih baik dibanding negara-negara tetangganya dalam menghadapi krisis keuangan global saat ini. Dengan alasan seperti relatif kuatnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan perkiraan menguatnya mata uang Rupiah, DBS optimis Indonesia menjadi tempat yang sesuai untuk berinvestasi dengan jenis instrumen ekuitas dan pendapatan tetap di tahun 2009 ini.

David Carbon, Direktur Pelaksana Riset Ekonomi dan Mata Uang Bank DBS,
berkomentar di sela-sela acara klien mereka di Jakarta, “ Sebagai bank yang sudah bergelut lama di Asia, DBS percaya akan situasi ekonomi di Asia walaupun sedang diterpa krisis keuangan global. Asia akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, namun tidak akan sampai parah,” ujarnya.

Carbon mengatakan tingkat suku bunga di Indonesia akan tetap lebih menarik
dibandingkan negara-negara lain, sedangkan pertumbuhan PDB akan relatif lebih tinggi. Indonesia bisa mengharapkan mata uang Rupiah meningkat sebanyak 10% terhadap USD di akhir tahun 2009. Lebih lanjut dia mengatakan: “Suku bunga tinggi dan peningkatan nilai mata uang sebesar 10% adalah alasan kuat untuk berinvestasi dalam instrumen pendapatan tetap di Indonesia. Pertumbuhan tinggi dan peningkatan nilai mata uang sebesar 10%, juga tidak dapat dipungkiri akan memicu investasi ekuitas.”

Krisis keuangan global saat ini mengakibatkan pertumbuhan ekspor Indonesia jatuh sekitar 36% poin hingga ke tingkat -2% setahun pada bulan November 2008. Meskipun demikian Indonesia lebih terlindungi dari akibat krisis keuangan karena Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Dengan proporsi ekspor sebesar 26% dari PDB, ekspor berdampak lebih kecil terhadap perekonomian Indonesia dibandingkan negara-negara lain, apalagi dengan relatif sedikitnya nilai ekspor ke Cina, salah satu kekuatan ekonomi di Asia.

Carbon juga mengatakan penyesuaian PDB tidak akan terlalu jauh dari periode 2000/01 ketika pertumbuhan turun hanya sekitar 1,5% poin: “Kami meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun sebesar 4,8% pada tahun 2009, dari yang sebelumnya 6,2% pada tahun 2008.”

Menurut Carbon, perlambatan di Asia diprediksi akan membawa pertumbuhan
sebesar 2.5% di wilayah ini, hal ini terutama disebabkan oleh kontraksi yang diperkirakanmelanda industri keuangan di Amerika Serikat tahun ini. Walaupun masalah yang dihadapi Amerika sangat mempengaruhi tingkat konsumsi dan permintaan akan barang impor Asia, Asia sendiri tidak terlalu terpengaruh karena tidak terpapar oleh “subprime crisis”. Paket stimulus fiskal dan pendekatan proaktif untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah baru Amerika Serikat sangat diharapkan dapat meredakan krisis di Asia.

Carbon mengatakan, “Perubahan struktur pada pasar global juga telah mengakibatkan Amerika Serikat tidak lagi berperan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi global jika dibandingkan 15 tahun yang lalu.” Carbon lantas menambahkan, “Konsumsi domestik dan perdagangan di Asia, ditambah tumbuhnya Cina menjadi penggerak pertumbuhan yang sangat penting di Asia. Bahkan, perlambatan perekonomian Cina, akan berdampak sangat buruk pada Asia melebihi dampak yang diakibatkan oleh krisis keuangan Amerika Serikat.”

BI Rate Turun 50 bps Menjadi 8,75%

Majalah SWA, Kamis, 08 Januari 2009
Oleh : Eddy Dwinanto Iskandar

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 8,75%. ”Imbangan risiko pada tahun 2009 menghendaki bahwa stance kebijakan moneter memberikan perhatian pada upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengawal inflasi dan kestabilan sektor keuangan dalam jangka menengah”, urai Gubernur Bank Indonesia, Boediono dalam siaran pers BI yang dikirimkan ke redaksi SWA.

Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan inflasi di dalam negeri terus menurun sebagai akibat antara lain dari penurunan harga komoditi, pangan dan energi dunia, produksi pangan di dalam negeri yang sangat baik dalam tahun 2008, serta perlambatan permintaan agregat. Pada bulan Desember 2008, justru terjadi deflasi sebesar 0,04%, sehingga laju inflasi tahun 2008 tercatat sebesar 11,06%. Dalam tahun 2009 ini, laju inflasi diprakirakan terus menurun menuju kisaran 5%-7%, yang ditunjang oleh berlanjutnya kondisi faktor-faktor pendukung tersebut diatas.

”Pada tahun 2009, indikator-indikator awal perekonomian Indonesia menunjukkan terjadinya perlambatan pertumbuhan beberapa komponen permintaan agregat, khususnya ekspor dan investasi”, demikian tambah Boediono. Kredit perbankan juga mulai menunjukkan perlambatan dari laju pertumbuhan 37,1% (yoy) pada Oktober 2008, menjadi 30,2% (yoy) berdasarkan data terakhir sementara bulan Desember 2008. Perlambatan kredit perbankan diprakirakan akan berlanjut dalam tahun 2009, dengan laju pertumbuhan kredit diprakirakan berada pada kisaran 18% – 20%. Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi pada 2009 diprakirakan berada pada kisaran 4% – 5%.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2008 sebesar USD 51,6 milyar atau setara dengan 4,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Karena situasi pasar global, kinerja ekspor Indonesia dalam tahun 2009 diperkirakan melemah, sedangkan impor menurun, dan Neraca Transaksi Berjalan pada 2009 diprakirakan akan mengalami defisit sekitar 0,11% dari PDB. Cadangan devisa akhir 2009 diperkirakan sebesar USD 51 milyar atau setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Detik / Kamis, 30/10/2008 09:02 WIB
Jangan Taruh Investasi dalam Satu Keranjang
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Meski terdengar klasik pepatah kuno agar jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang cukup relevan dalam berinvestasi di saat krisis finansial seperti sekarang.

Maksud kalimat tersebut adalah mencegah kehilangan semua telur di saat satu keranjang karena hilang atau rusak. Rupanya metode tersebut dinilai masih ampuh mencegah kerugian dalam berinvestasi di pasar modal dan uang.

“Tren ekonomi saat ini kembali mengingatkan kita untuk memiliki diversifikasi portofolio investasi serta risk assessment yang lebih cerdas,” ujar pengamat investasi Goei Siauw Hong dalam paparannya di hotel Mulia, Jakarta, Rabu Malam (29/10/2008).

Menurutnya, dalam kondisi ekonomi global yang tengah bergerak tanpa arah jelas seperti sekarang dibutuhkan suatu manajemen risiko yang tepat, salah satunya adalah melakukan diversifikasi investasi.

“Diversifikasi posisi ekuitas dan currency akan menjadi penting. Ekuitas secara umum telah menjadi murah dengan koreksi yang tajam. Nilai rupiah pun melemah cukup tajam. Memiliki lebih dari satu jenis produk investasi akan menjadi pilihan yang cerdas dalam kondisi seperti ini,” papar Goei.

Goei menambahkan, kondisi krisis bursa global dan penguatan mata uang dolar terhadap hampir semua mata uang dunia masih akan berlangsung dalam waktu yang belum bisa diperkirakan pasti.

“Namun perkiraan sementara mengatakan pada triwulan 3 2009 kemungkinan ekonomi Asia akan menguat. Capital outflow yang sekarang terjadi diperkirakan berangsur-angsur mulai masuk lagi,” ujar Goei.

Kendati Goei tidak bisa memastikan waktunya, secara umum ia masih optimistis dengan pemulihan ekonomi Indonesia.

Apa yang dikatakan Goei senada dengan paparan Cyrillus Harinowo, seorang praktisi perbankan yang turut menjadi pembicara dalam acara tersebut.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih berpotensi pulih,” ujarnya.

Cyrillus menjelaskan, pergeseran ekonomi telah terjadi dari Jawa ke luar Jawa. Menurutnya, ekonomi di luar Jawa tumbuh cukup pesat, sedangkan krisis justru lebih terasa di Jawa.

“Jadi krisis belum merembet ke seluruh wilayah Indonesia. Daerah luar Jawa masih tumbuh baik,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Cyrillus, porsi ekspor Indonesia tidak begitu besar sementara dampak krisis ekonomi global jauh lebih terasa pada negara-negara dengan ekspor besar. Sehingga ia menyimpulkan Indonesia masih prospektif untuk pulih dalam waktu cepat.

“Fundamental juga masih kuat. Kita punya dua modal utama ekonomi, yaitu populasi penduduk dan sumber daya alam. Jika ini dikelola dengan baik, hampir dapat dipastikan kita bisa keluar dari krisis ini,” jelas Cyrillus.

Kendati demikian, ada satu poin penting yang harus diperhatikan. Hubungan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung antara Indonesia dengan China sangat mempengaruhi kesempatan Indonesia untuk pulih.

“Dengan catatan China masih tumbuh baik di 2009, pemulihan ekonomi Indonesia akan bisa berlangsung lebih cepat. Pergerakan ekonomi China akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun di Asia,” ulas Cyrillus.(dro/ir)

Detik / Jumat, 09/01/2009 15:31 WIB
Pajak untuk Rumah Rp 60 Juta
PB-Co – detikFinance

JakartaPertanyaan:

Berapa persen kah Pajak dari harga rumah yang nilai Jualnya seharga Rp 60 juta dan luas nya sekitar 55m2. Dan berapakah biaya pengurusan balik nama di Notaris? Sebelum dan sesudahnya Saya ucapkan banyak terimakasih atas bantuan dan penjelasannya

Jawaban:

Bagi orang pribadi yang menjual rumah senilai Rp. 60 juta, sesuai dengan ketentuan yang diatur pada Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 1994 sebagaimana telah diubah terakhir dengan PP No. 79 Tahun 1999, dikenakan PPh dengan tariff sebesar 5% (dari nilai tertinggi antara nilai jual dengan NJOP) dan bersifat final. Mengenai biaya pengurusan balik nama di Notaris, sepengetahuan kami tergantung pada kesepakatan dengan Notaris yang bersangkutan (negotiable).

Detik/Rabu, 03/12/2008 19:20 WIB
Bunga KPR Diperkirakan Turun Jadi 12% Tahun 2009
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Suku bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR) diperkirakan akan mengalami penurunan pada 2009. Jika tahun ini KPR berkisar 14-16%, maka tahun depan bisa menjadi 12%.

Demikian disampaikan pakar properti Panangian Simanungkalit usai menghadiri seminar nasional ‘Atasi Dampak Krisis Keuangan Dengan Wealth Management’ di Hotel Shangrilla, Jakarta, Rabu (3/12).

Namun penurunan tersebut dinilai belum memadai karena seharusnya KPR turun hingga menjadi satu digit saja.

“(12%) pun ini nggak bagus, karena seharusnya kembali ke 9%. KPR ini harus single digit karena dia ditujukan untuk perumahan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Panangian menambahkan kapitalisasi properti ditahun 2009 juga akan mengalami penurunan. Jika pada 2007 kapitalisasi di sektor properti mencapai Rp 83 triliun, maka di 2008 turun menjadi Rp 76 triliun. Jumlah ini kembali turun di 2009 menjadi Rp 70 trilyun.

“Pemicunya suku bunga yang tinggi,” jelasnya.

Perlakuan Khusus BTN

Selain itu, ia juga meminta pemerintah untuk memberikan perlakuan khusus pada Bank Tabungan Negara sebagai bank perumahaan di Indonesia.

“Kalau di Thailand itu ada goverment housing bank yang tidak mengikuti standar bank internasional,” ujarnya.

Goverment housing bank ini, lanjut panangian, beroperasi langsung di bawah pengawasan Menteri Keuangan Thailand. Perlakuan khusus yang diberikan antara lain untuk terkait rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR).

“CAR untuk bank-bank umum, karena basisnya kredit finance yang beresiko tinggi sehingga CAR-nya bisa sampai 12, kalau housing bank CAR-nya cuma 4. Kalau di Indonesiakan, BTN bisa dapat perlakukan yang sama,” katanya.(lih/lih)

Detik/ Kamis, 04/12/2008 17:50 WIB
Bunga KPR Baru Turun Maret 2009
Angga Aliya ZRF – detikFinance

Jakarta – Dengan adanya penurunan BI Rate sebesar 0,25%, suku bunga KPR diperkirakan akan ikut turun pada Februari atau Maret 2009. Namun penurunan bunga KPR ini tidak besar, hanya sekitar 1% saja.

Demikian disampaikan Wadirut BTN Evi Firmansyah di Gedung BTN, Jakarta, Kamis (4/12/2008).

“Kalau nanti cost-nya memungkinkan segera ya segera, tapi nanti kalau kita lihat portfolio banyak yang 3 bulan, ya 3 bulan kemudian (baru turun),” katanya.

Menurutnya suku bunga KPR memang tidak bisa langsung ikut turun karena kebanyakan deposito yang ada di perbankan bertempo tiga bulanan.

Besaran penurunannya pun tidak besar. Suku bunga KPR BTN yang saat ini sekitar 15% diperkirakan hanya turun 1% menjadi sekitar 14%.

“Kalau dari referensi BI 25 basis poin, ya paling tidak kita sesuaikan kesitu. Bisa lebih besar atau tidak, tergantung dari komposisi kita bagaimana melihat kedepannya,” katanya.

Selain BI Rate perbankan juga akan melihat faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dinilai masih sangat fluktuatif jika ingin menurunkan suku bunga KPR-nya.”Kalau dolar masih fluktatif agak susah juga turunkan suku bunga. Kalau tahun ini bisa stabil, tahun depan memudahkan perbankan turunkan suku bunga,” katanya.
(lih/ir)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: